"Belajar Seperti Mendaki Gurung". Saya ceritakan ini sebelum pembelajaran dimulai

Table of Contents

"Sebelum mulai pelajaran, saya ingin cerita dulu. Gak apa-apa kan ?", kata pembuka saya di depan kelas.

"Gak apa-apa Paa..." riuh siswa menjawab dengan antusias.

Perjalanan yang Mengubah Seorang Pendaki

Gini, Bayangin di suatu pagi, kita sedang berdiri di kaki sebuah gunung.

Gunung itu tinggi. Puncaknya tertutup kabut. Jalurnya belum terlihat seluruhnya.

Kita berdiri sambil membawa ransel dan bertanya:

“Sebenarnya, apa yang harus kita lakukan?”

Kita belum tahu apa-apa. Kita belum tahu jalan mana yang aman.

Belum tahu apa yang akan kita temukan. Belum tahu bagaimana rasanya berjalan berjam-jam menuju puncak.

Menemukan Petunjuk

Beberapa langkah kemudian, kita menemukan sebuah papan petunjuk.

“Jalur menuju puncak: 8 kilometer.”

Sekarang kita mengetahui satu hal.

Oh, ternyata jaraknya 8 kilometer.

Kita belum memahami perjalanan ini secara keseluruhan.

Tapi setidaknya kita sudah menemukan satu informasi. Kemudian kita melihat penanda jalur. Kita belajar satu hal lagi.

Namun, mungkin di tahap ini kita hanya berkata:

“Saya tahu jalannya.”

Bertemu Petunjuk Lainnya

Kita terus mendaki. Semakin jauh, semakin banyak hal yang kita temukan.

Dan kita mengetahui bahwa:

  • cuaca dapat berubah dengan cepat;
  • persediaan air harus dihemat;
  • sepatu yang tepat membuat perjalanan lebih aman;
  • jalur yang menanjak membutuhkan energi lebih besar;
  • peta membantu menentukan arah;
  • teman yang kelelahan tidak boleh ditinggalkan;
  • kita tidak bisa berjalan dengan kecepatan yang sama sepanjang waktu.

Sekarang kita mengetahui banyak hal.

Jika ditanya, kita mampu menyebutkan semuanya.

Tetapi ketika ditanya:

“Apa hubungan antara cuaca, air, tenaga, jalur, dan kecepatan perjalanan?”

Kita mungkin belum mampu menjawabnya. Kita hanya tahu banyak hal.

Menemukan Keterkaitan

Perjalanan semakin menanjak. Kabut mulai turun. Seorang teman mulai kelelahan. Persediaan air tinggal sedikit.

Di sinilah kita mulai berpikir.

“Jika kami terus berjalan terlalu cepat, tenaga akan habis.”
“Jika tenaga habis, kami membutuhkan lebih banyak air.”
“Jika cuaca memburuk, kami harus memperhitungkan waktu tempuh.”
“Berarti kami harus menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalur, tenaga, air, dan cuaca.”

Tiba-tiba, semuanya mulai terhubung.

Sekarang kita tidak lagi melihat cuaca, air, tenaga, dan jalur sebagai informasi yang terpisah. Kita memahami bahwa semuanya memengaruhi perjalanan.

Ada di Puncak Gunung

Akhirnya, kita tiba di puncak.

Kabut mulai terbuka. Dari sana kita melihat jalan yang telah kita lalui.

Sekarang kita memahami sesuatu yang lebih besar. Kita memahami bahwa mendaki gunung bukan hanya tentang kuat berjalan. Bukan hanya tentang mengetahui jalur. Bukan hanya tentang membawa perlengkapan yang lengkap.

Mendaki adalah tentang: membaca situasi, mengambil keputusan, bekerja sama, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah.

Lalu suatu hari, seorang teman bertanya:

“Kalau kita akan mendaki gunung lain yang belum pernah kita datangi, apa yang harus kita lakukan?”

Sekarang kita tidak hanya menceritakan pengalaman kita.

Kita mulai menggunakan pemahaman dari gunung sebelumnya untuk menghadapi gunung yang baru. Kita bisa merancang strategi baru. Kita bisa memperbaiki cara perjalanan. Kita bahkan bisa menggunakan pelajaran dari pendakian untuk menghadapi masalah dalam kehidupan.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Belajar?

Jadi, apa hugungannya dengan pelajaran hari ini...?

Setiap mata pelajaran sebenarnya adalah sebuah perjalanan mendaki.

Ketika pertama kali bertemu materi baru, kita mungkin berada di kaki gunung.

Kita belum tahu apa-apa.

Kemudian kita menemukan satu konsep.

Kita mulai melangkah.

Setelah itu, kita menemukan banyak konsep.

Ransel pengetahuan kita mulai terisi.

Tetapi jangan berhenti di sana. Karena memiliki banyak informasi belum tentu berarti memahami.

Kita harus bertanya: “Apa hubungan semua yang saya pelajari ini?”

Dan setelah memahami hubungannya, tantang diri kita lebih jauh:

“Di mana pengetahuan ini dapat digunakan?”
“Masalah apa yang dapat saya selesaikan?”
“Ide baru apa yang dapat saya ciptakan?”

Karena belajar bukanlah perlombaan untuk menjadi orang yang paling banyak menghafal. Belajar adalah perjalanan.

Dari tidak tahu, menjadi tahu.
Dari mengetahui satu hal, menjadi mengetahui banyak hal.
Dari banyak hal yang terpisah, menjadi pemahaman yang saling terhubung.
Dan akhirnya, dari memahami, menjadi menciptakan sesuatu yang baru.

Itulah perjalanan belajar.

Itulah Taksonomi SOLO.

Jadi, saat besok memasuki kelas dan bertemu materi yang terasa sulit, jangan langsung bertanya:

“Kenapa saya belum bisa?”

Mungkin jawabannya sederhana.

Karena kita memang belum sampai di puncak.

Teruslah berjalan. Satu langkah. Satu pemahaman. Lalu hubungkan semuanya.

Karena setiap pembelajar hebat juga pernah berdiri di kaki gunung dan berkata:

“Saya belum tahu.”

Yang membedakan mereka adalah:

mereka tidak berhenti di sana.

Semoga bermanfaat
Salam inovasi, Salam implementasi.
~☺~
informasi okeguru
INFO OKEGURU
ARTIKEL OKEGURU
Wisnurat
Wisnurat Teacher, Public Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Posting Komentar