Merancang Pertanyaan Berdasarkan Level SOLO Menggerakkan Siswa dari Mengingat Menuju Memahami

Table of Contents
ARTIKEL OKEGURU

Ketika hasil belajar siswa belum sesuai harapan, kita sering bertanya:

"Mengapa siswa belum mampu berpikir kritis?"

Namun ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting untuk diajukan:

"Pertanyaan seperti apa yang selama ini saya berikan kepada siswa?"

Pertanyaan guru memiliki pengaruh besar terhadap kualitas berpikir siswa. Jika pertanyaan yang diajukan hanya meminta siswa mengingat informasi, maka respons yang muncul pun cenderung berhenti pada tingkat mengingat. Sebaliknya, jika pertanyaan mendorong siswa menghubungkan konsep, menganalisis hubungan, atau menerapkan pengetahuan dalam situasi baru, maka peluang munculnya pemikiran yang lebih mendalam juga semakin besar.

Di sinilah Taksonomi SOLO dapat membantu guru merancang pertanyaan yang tidak hanya mengukur pemahaman, tetapi juga mengembangkan kualitas berpikir siswa.

Mengapa Pertanyaan Guru Penting?

Dalam banyak kelas, interaksi belajar terjadi melalui pertanyaan.

Guru bertanya.
Siswa menjawab.
Guru memberikan umpan balik.

Masalahnya, tidak semua pertanyaan memiliki tuntutan berpikir yang sama.

Perhatikan dua pertanyaan berikut:

"Sebutkan tiga penyebab banjir."

dan

"Bagaimana hubungan antara perilaku manusia dan terjadinya banjir?"

Kedua pertanyaan sama-sama membahas banjir. Namun kualitas berpikir yang dituntut sangat berbeda.

Pertanyaan pertama mendorong siswa mengingat beberapa informasi. Pertanyaan kedua mengajak siswa membangun hubungan antarkonsep.

Taksonomi SOLO membantu guru memahami perbedaan tersebut.

Dari Mengetahui Hingga Mengembangkan Gagasan

Taksonomi SOLO menggambarkan perkembangan kualitas pemahaman melalui lima level:

  1. Prestructural
  2. Unistructural
  3. Multistructural
  4. Relational
  5. Extended Abstract

Dalam konteks merancang pertanyaan, setiap level memiliki tujuan yang berbeda.

Guru tidak harus selalu mengajukan pertanyaan pada level tertinggi. Yang lebih penting adalah menyesuaikan pertanyaan dengan tujuan pembelajaran dan posisi belajar siswa saat itu.

Mari kita lihat contoh penerapannya.

Contoh Topik: Ekosistem

Misalkan guru sedang mengajarkan materi tentang ekosistem.

Topiknya sama, tetapi pertanyaannya dapat dirancang untuk mendorong level berpikir yang berbeda.

Pertanyaan pada Level Prestructural

Tujuan utama pada tahap ini adalah membantu siswa mulai mengenali konsep yang sedang dipelajari.

Contoh pertanyaan:

  • Apa yang kamu ketahui tentang ekosistem?
  • Pernahkah kamu mendengar istilah ekosistem?
  • Menurutmu, apa yang dimaksud dengan ekosistem?

Pada tahap ini guru berusaha memunculkan pengetahuan awal siswa dan mengidentifikasi kemungkinan miskonsepsi.

Pertanyaan pada Level Unistructural

Pada level ini siswa diarahkan untuk memahami satu aspek penting dari suatu konsep.

Contoh pertanyaan:

  • Sebutkan satu komponen penyusun ekosistem.
  • Apa fungsi tumbuhan dalam ekosistem?
  • Mengapa air penting bagi makhluk hidup?

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu siswa membangun pemahaman dasar sebelum mempelajari konsep yang lebih kompleks.

Pertanyaan pada Level Multistructural

Setelah siswa memahami satu aspek penting, guru dapat mengajak mereka mengeksplorasi beberapa aspek sekaligus.

Contoh pertanyaan:

  • Sebutkan komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem.
  • Faktor apa saja yang memengaruhi keseimbangan ekosistem?
  • Apa saja peran makhluk hidup dalam rantai makanan?

Pada tahap ini siswa mengumpulkan berbagai informasi yang relevan.

Namun hubungan antar informasi tersebut belum menjadi fokus utama.

Pertanyaan pada Level Relational

Inilah tahap ketika siswa mulai diajak menghubungkan berbagai konsep yang telah dipelajari.

Contoh pertanyaan:

  • Bagaimana hubungan antara komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem?
  • Mengapa hilangnya satu spesies dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem?
  • Bagaimana perubahan jumlah predator memengaruhi populasi mangsa?

Pertanyaan seperti ini menuntut siswa melihat keterkaitan antarkonsep dan menjelaskan hubungan sebab-akibat.

Pemahaman mulai menjadi lebih utuh.

Pertanyaan pada Level Extended Abstract

Pada level tertinggi ini siswa diajak menggunakan pemahaman yang dimiliki untuk menghadapi situasi baru.

Contoh pertanyaan:

  • Bagaimana dampak perubahan iklim terhadap keseimbangan ekosistem?
  • Jika Anda menjadi pengambil kebijakan, strategi apa yang akan dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan?
  • Bagaimana konsep ekosistem dapat digunakan untuk menjelaskan masalah lingkungan di daerah Anda?

Siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengembangkan, menerapkan, dan mentransfer pengetahuan ke konteks yang berbeda.

Pola Sederhana untuk Merancang Pertanyaan SOLO

Bagi guru yang baru mulai menggunakan SOLO, pola berikut dapat menjadi panduan praktis.

1. Unistructural

Tanyakan:

Apa?

Contoh:

  • Apa fungsi akar?
  • Apa penyebab banjir?

2. Multistructural

Tanyakan:

"Apa saja?"

Contoh:

  • Apa saja fungsi akar?
  • Apa saja penyebab banjir?

3. Relational

Tanyakan:

Bagaimana hubungannya?

Contoh:

  • Bagaimana hubungan fungsi akar dengan pertumbuhan tanaman?
  • Bagaimana hubungan aktivitas manusia dengan meningkatnya risiko banjir?

4. Extended Abstract

Tanyakan:

Bagaimana jika?

Contoh:

  • Bagaimana jika suatu tanaman kehilangan sebagian besar akarnya?
  • Bagaimana jika pola penggunaan lahan terus berubah dalam 20 tahun ke depan?

Pola sederhana ini dapat membantu guru meningkatkan kualitas pertanyaan tanpa harus mengubah seluruh desain pembelajaran.

SOLO dan Berpikir Kritis

Banyak guru ingin mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Namun berpikir kritis tidak muncul secara otomatis.

Kemampuan tersebut perlu dilatih melalui pengalaman belajar yang menuntut siswa menghubungkan ide, mengevaluasi informasi, dan menerapkan konsep dalam situasi baru.

Pertanyaan pada level Relational dan Extended Abstract memiliki potensi besar untuk mendorong proses tersebut.

Karena itu, salah satu cara sederhana untuk mulai mengembangkan berpikir kritis adalah dengan meningkatkan kualitas pertanyaan yang diajukan kepada siswa.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Ada beberapa kesalahan yang perlu dihindari ketika merancang pertanyaan berdasarkan SOLO.

Menganggap Semua Pertanyaan Harus Berlevel Tinggi

Tidak selalu.

Siswa tetap membutuhkan pertanyaan pada level Unistructural dan Multistructural untuk membangun fondasi pengetahuan.

Pertanyaan tingkat tinggi akan lebih bermakna jika didukung oleh pemahaman dasar yang kuat.

Menganggap Level Tinggi Selalu Lebih Sulit

Belum tentu.

Kadang-kadang siswa lebih mudah menjelaskan hubungan antarkonsep yang dipahami daripada menghafal banyak fakta.

SOLO lebih berkaitan dengan struktur pemahaman daripada tingkat kesulitan soal.

Menggunakan Satu Jenis Pertanyaan Terus-Menerus

Jika guru hanya bertanya "apa" dan "apa saja", siswa mungkin jarang berlatih menghubungkan konsep atau menerapkan pengetahuan.

Variasi pertanyaan sangat penting untuk mengembangkan kualitas berpikir yang lebih beragam.

Penutup

Taksonomi SOLO tidak hanya membantu guru menilai kualitas pemahaman siswa, tetapi juga membantu merancang pertanyaan yang dapat mengembangkan pemahaman tersebut.

Ketika guru mulai menyadari bahwa setiap pertanyaan membawa tuntutan berpikir yang berbeda, proses pembelajaran pun berubah.

Kelas tidak lagi sekadar menjadi tempat siswa mengumpulkan informasi, tetapi menjadi ruang untuk membangun hubungan antargagasan, mengembangkan pemahaman, dan menemukan makna dari apa yang dipelajari.

Karena sering kali, kualitas jawaban siswa dimulai dari kualitas pertanyaan yang diajukan guru.

Semoga bermanfaat
Salam inovasi, Salam implementasi.
~☺~
ARTIKEL OKEGURU
Wisnurat
Wisnurat Teacher, Public Speaker, Writer, Blogger, Education Content Creator and Enterpreneur.

Posting Komentar