5 Level Pertanyaan Taksonomi SOLO untuk Tema "Pancasila di Era AI, Media Sosial, dan Generasi Digital"
Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 menjadi momentum yang tepat bagi guru untuk merefleksikan kembali cara mengajarkan Pancasila kepada peserta didik. Selama bertahun-tahun, pembelajaran Pancasila sering terjebak pada hafalan sila, tokoh, dan peristiwa sejarah. Padahal tantangan yang dihadapi generasi saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa ketika Pancasila dirumuskan.
Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), media sosial, algoritma digital, hoaks, deepfake, dan berbagai fenomena teknologi lainnya menimbulkan pertanyaan baru yang membutuhkan jawaban etis. Di sinilah Pancasila perlu dihadirkan bukan sekadar sebagai materi hafalan, melainkan sebagai alat berpikir.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan guru adalah Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis. Taksonomi ini membantu guru melihat perkembangan kualitas pemahaman peserta didik, mulai dari belum memahami hingga mampu menghasilkan gagasan baru.
Berikut contoh penerapan Taksonomi SOLO pada tema:
"Pancasila di Era AI, Media Sosial, dan Generasi Digital: Masih Relevankah?"
Level 1 Prestructural
Pada tahap ini peserta didik belum memahami hubungan antara Pancasila dengan isu yang sedang dibahas. Jawaban yang muncul biasanya tidak relevan atau masih sangat dangkal.
Contoh Pertanyaan
- Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar kata AI atau kecerdasan buatan?
- Menurutmu, apakah AI dan media sosial memiliki hubungan dengan Pancasila?
- Mengapa kita masih belajar Pancasila di era digital?
Karakteristik Jawaban Siswa
"AI itu teknologi."
"Pancasila itu dasar negara."
"Saya belum tahu hubungan keduanya."
Pada level ini guru tidak perlu buru-buru mengoreksi. Tujuannya adalah membangun rasa ingin tahu dan memetakan pemahaman awal siswa.
Level 2 Unistructural
Peserta didik mulai memahami satu aspek yang berkaitan dengan topik.
Contoh Pertanyaan
- Sila mana yang menurutmu berkaitan dengan penggunaan media sosial?
- Mengapa menyebarkan hoaks dapat dianggap bertentangan dengan nilai Pancasila?
- Bagaimana AI dapat membantu proses belajar siswa?
Karakteristik Jawaban Siswa
"Hoaks bertentangan dengan sila kedua karena merugikan orang lain."
"AI membantu belajar karena memudahkan mencari informasi."
Siswa sudah mampu menemukan satu hubungan, tetapi belum melihat keterkaitan yang lebih luas.
Level 3 Multistructural
Pada tahap ini peserta didik mampu mengidentifikasi beberapa aspek yang berkaitan dengan suatu masalah.
Contoh Pertanyaan
- Nilai-nilai Pancasila apa saja yang dapat digunakan untuk menilai penggunaan AI dalam pendidikan?
- Dampak positif dan negatif apa yang ditimbulkan media sosial terhadap kehidupan masyarakat?
- Sila mana saja yang berkaitan dengan fenomena cyberbullying?
Karakteristik Jawaban Siswa
"Penggunaan AI berkaitan dengan sila pertama karena tanggung jawab moral, sila kedua karena menghargai manusia, dan sila kelima karena keadilan."
Siswa telah menemukan beberapa aspek penting, tetapi masih berupa daftar yang belum saling terhubung.
Level 4 Relational
Inilah tahap ketika peserta didik mulai menghubungkan berbagai konsep dan menjelaskan hubungan sebab-akibat secara logis.
Contoh Pertanyaan
- Mengapa penyalahgunaan AI dalam pendidikan dapat memengaruhi keadilan sosial?
- Bagaimana penyebaran hoaks dapat mengancam persatuan bangsa di era digital?
- Apa hubungan antara etika penggunaan media sosial dengan nilai kemanusiaan dan persatuan?
Karakteristik Jawaban Siswa
"Penggunaan AI untuk menyontek tidak hanya melanggar kejujuran pribadi, tetapi juga menciptakan ketidakadilan karena siswa yang bekerja keras memperoleh hasil yang sama dengan siswa yang tidak berusaha. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas pendidikan."
Pada level ini siswa tidak lagi sekadar menyebutkan fakta, tetapi sudah mampu menjelaskan keterkaitan antar gagasan.
Level 5 Extended Abstract
Ini adalah level tertinggi dalam Taksonomi SOLO. Peserta didik mampu melakukan generalisasi, transfer konsep ke situasi baru, bahkan menghasilkan gagasan yang belum pernah dibahas sebelumnya.
Contoh Pertanyaan
- Jika kamu menjadi pembuat kebijakan pada tahun 2045, aturan apa yang akan kamu buat agar AI berkembang sesuai nilai Pancasila?
- Apakah Pancasila masih relevan jika sebagian besar keputusan manusia di masa depan dibantu oleh AI?
- Bagaimana bentuk "Etika AI Berbasis Pancasila" yang cocok diterapkan di Indonesia?
Karakteristik Jawaban Siswa
"Pancasila tetap relevan karena bukan hanya mengatur perilaku manusia saat ini, tetapi juga menyediakan prinsip etis untuk menghadapi teknologi apa pun yang muncul di masa depan. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengembangkan regulasi AI yang menempatkan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai prinsip utama."
Di sinilah peserta didik mulai menggunakan Pancasila sebagai alat berpikir, bukan sekadar sebagai materi pelajaran.
Mengapa Guru Perlu Menggunakan Taksonomi SOLO?
Banyak pertanyaan di kelas masih berhenti pada level mengingat dan memahami. Akibatnya, siswa dapat menghafal isi sila-sila Pancasila tetapi kesulitan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Taksonomi SOLO membantu guru merancang pertanyaan yang mendorong peserta didik bergerak secara bertahap dari:
- Tidak memahami hubungan (Prestructural)
- Memahami satu aspek (Unistructural)
- Memahami banyak aspek (Multistructural)
- Menghubungkan berbagai aspek (Relational)
- Menciptakan gagasan baru (Extended Abstract)
Dengan pendekatan ini, pembelajaran Pancasila menjadi lebih bermakna karena siswa diajak berpikir, berdiskusi, berargumentasi, dan memecahkan masalah nyata yang mereka hadapi di era digital.
Hari Lahir Pancasila tidak semestinya hanya menjadi momentum untuk mengingat sejarah lahirnya dasar negara. Lebih dari itu, peringatan ini perlu menjadi ruang untuk menguji relevansi Pancasila dalam menjawab tantangan zaman.
Melalui pertanyaan-pertanyaan bertingkat berdasarkan Taksonomi SOLO, guru dapat membantu peserta didik bergerak dari sekadar menghafal menuju kemampuan berpikir kritis. Pada akhirnya, tujuan pembelajaran Pancasila bukanlah membuat siswa mampu mengucapkan lima sila dengan lancar, melainkan mampu menggunakan nilai-nilai Pancasila ketika menghadapi persoalan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya.
Karena tantangan zaman boleh berubah, tetapi kebutuhan akan nilai, etika, dan kemanusiaan akan selalu tetap ada.
Semoga bermanfaat
Salam inovasi, Salam implementasi.
~☺~

Posting Komentar